Lokalitas, Budaya, Mitos, Perempuan Berkolaborsi

Program studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Universitas Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun  mengadakan kegiatan bedah buku kumcer Kembang Turi Yu Srini. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 12 September 2019. Ini  merupakan salah kegiatan yang diadakan  dalam rangka Dies Natalis Prodi PBI. Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan di auditorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun.

Di dalam kegiatan ini diundang beberapa  narasumber, yaitu Bapak Panji Kuncoro Hadi, S.S, M.Pd , sebagai pengulas buku. Lalu ada  dua pembahas, yang pertama  Ibu Dra. Agnes Adhani, M.Hum, yang merupakan kepala Prodi PBI Universitas Katolik Widaya Mandala  Surabaya Kampus Madiun , dan juga Ibu Rr. Arielia Yustisiana, M. Hum, yang merupakan dosen Prodi Sastra Inggris Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun. Kegiatan bedah buku ini dimoderatori oleh Ibu Wenny Wijayanti, M.Pd, yang merupakan dosen Prodi PBI.

Dalam kegiatan bedah buku ini tidak hanya diikuti oleh para mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun, tetapi juga diikuti oleh siswa SMA dan SMP yang ada disekitar Madiun.  Terdapat 8 SMA dan juga 2 SMP. Kegiatan tersebut diawali dengan doa pembuka, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan juga Hyme Widya Mandala, sambutan dari Ibu Dra. Fransisca Mudjijanti, M.M. selaku rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun, dan juga sambutan dari Ibu  selakuDra. Agnes Adhani, M.Hum Ketua Program Studi PBI.

Di dalam kegiatan bedah buku ini dibahas beberapa poin penting yang terdapat di dalam buku Kumpulan Cerpen Kembang Turi Yu Srini. “ Saya mencoba membuat keywords atau kata kunci yang saya beri judul peristiwa manusia menyisir citra mitos lewat budaya “, ungkap Bapak Panji. Beliau mengatakan bahwa ia melihat cerita kumpulan cerpen ini sangat luar biasa dan kaget ketika membacanya. Bapak Panji juga mengatakan ada keywords lain yang menarik dari cerita kumpulan cerpen tersebut, yaitu tentang ibu, perempuan, keluarga terhubung dengan mitos budaya yang dimana penulisnya perempuan tetapi memenangkan tokoh laki-laki didalam ceritanya.

Buku  kumpulan cerpen Kembang Turi Yu Srini ini berawal dari obrolan para  dosen PBI yang ingin membuat kelas listerasi. Lalu terealisasikan dan dibuka kelas literasi yang  dilakukan setiap hari Jumat pukul 11.30. Dari kelas literasi tersebut dihasilkan beberapa karya, lalu dibukukan.

“ Untuk membuat cerpen ini membawa lokalitas menjadi universal, semua kisah berasal dari kisah-kisah lokal berdasarkan pengalaman “, ungkap Ibu Agnes. Nama Kembang Turi Yu Srini ini diambil dari beberapa  makna, yaitu ciri khas dari kota Madiun, selain sambel pecelnya, terdapat juga kembang turi, lalu Yu sendiri itu  berarti ayu dan cantik, dan juga perjuangan dari seorang perempuan yang bekerja keras dan bangkit dari keterpurukan yang terdapat dalam tokoh Yu Srini dalam cerita.

Salah seorang pembahas yang  juga merupakan salah satu penulis cerita dalam kumcer tersebut, yaitu Ibu Rr. Arielia Yustisiana, M. Hum, mengatakan bahwa cerpen yang beliau buat proses awalnya ketika ia membuat status whatsapp,  dimana status yang beliau buat banyak diminati dan akhirya memberikan ide untuk beliau menulis sebuah cerpen. Di dalam cerpennya beliau menulis  tentang sepasang kekasih dimana, seorang perempuan yang berpacaran dengan soerang pria yang memakai tato yang menimbulkan pandangan negatif dari ibu sang perempuan terhadap kekasihnya. Dalam cerpen tersebut beliau ingin mematahkan mitos orang bertato itu  kriminal.

Dalam kegiatan bedah buku Kumcer “ Kembang Turi Yu Srini , moderator mengambil kesimpulan , yaitu bahwa di dalam cerita dalam buku itu  berupaya untuk menghilangkan mitos yang  sekarang menyesatkan pikiran , mengangkat tradisi, kisah-kisah yang berkaitan dengan mitos, budaya, perempuan, lokalitas dimana cerita-cerita ini kemudian diangkat menjadi sebuah cerita yang berkualitas, dan menjadikan perempuan  sebagai induk kehidupan.

Oleh : Chatarina Hilda Parera

(Mahasiswa PBI Wima Angkatan 2019)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *